Walisongo
Poin-poin krusial dari buku Fakta Baru Walisongo: Menyingkap tabir mitos yang terlanjur diyakini.
Ditulis oleh Dr. Zaenal Abidin bin Syamsuddin LC., M. M. حفظه الله
Perkembangan Islam di Jawa yang sesuai dengan tuntuan Rasulullah
Islam pada dasarnya hanya ditegakkan dengan Al-Qur'an dan As-sunnah. Semua sudah lengkap, tidak perlu ditambahkan dengan bid'ah, amalan/ibadah gak jelas yang gak ada tuntunan nabi, apalagi khurafat yang gak masuk akal.
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا
QS Al-Maidah: 3
Perkembagan Islam di Jawa yang murni sesuai dengan tuntunan Rasulullah terjadi pada zaman Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Sunak Gresik), Sunan Ampel, dan Sunan Giri. Lalu wali-wali setelah mereka muncul dari kalangan kerajaan yang masih kental akan tradisi. Sehingga mereka mengedepankan islam sinkretis; yang mencapur-adukan agama dan tradisi. Di antaranya adalah sunan kalijogo -> kudus -> muria -> tembayat
Komposisi Walisongo
Menurut A.M Suryanegara. Walisongo bukanlah aktivis pertama yang menyebarkan islam di Jawa. Karena aktivitas Walisongo baru dimulai pada saat berdirinya kekuasaan politik dan kesultanan. Dalam hal ini pada saat kesultanan Demak
Para wali yang terkenal di tengah masyarakat:
- Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
- Sunan Ampel (Raden Rahmat)
- Sunan Giri (Raden Paku | Ainul Yakin)
- Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
- Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim)
- Sunan Drajat (Raden Qasim)
- Sunan Kudus (Ja'far Shadiq)
- Sunan Kalijogo (Raden Sahid)
- Sunan Muria (Raden Umar Sa'id)
*Note: Ada beberapa sejarawan yang mengeluarkan Syeikh Maulana Malik Ibrahim dan memasukan Syeikh Siti Jenar (Syeikh Lemah Abang)