Jump to content

Mikrotik 3: Bridge

From Haidhi Wiki
Revision as of 05:17, 25 October 2026 by SanzSkuy (talk | contribs) (Created page with ""''bridge''' adalah cara menggabungkan beberapa port router menjadi satu segmen jaringan. == Tujuan == * Paham apa itu bridge dan kenapa port router defaultnya berdiri sendiri. * Tahu kapan memakai bridge dan kapan memisahkan segmen. * Bisa membuktikan beda '''switching''' dan '''routing''' lewat <code>trace</code>. * Bisa melacak perangkat ke port fisik lewat '''Bridge → Hosts'''. == Konsep == === Port router berdiri sendiri === Di RouterOS, '''setiap port etherne...")
(diff) ← Older revision | Latest revision (diff) | Newer revision → (diff)

"bridge' adalah cara menggabungkan beberapa port router menjadi satu segmen jaringan.

Tujuan

  • Paham apa itu bridge dan kenapa port router defaultnya berdiri sendiri.
  • Tahu kapan memakai bridge dan kapan memisahkan segmen.
  • Bisa membuktikan beda switching dan routing lewat trace.
  • Bisa melacak perangkat ke port fisik lewat Bridge → Hosts.

Konsep

Port router berdiri sendiri

Di RouterOS, setiap port ethernet adalah interface terpisah. Tanpa bridge, ether2 dan ether3 adalah dua segmen yang sama sekali tidak tersambung, seperti dua switch tanpa kabel penghubung.

Konsekuensinya:

  • Setiap port yang dipakai butuh subnet sendiri (seperti Part 2: ether2 = 192.168.10.0/24, ether3 = 192.168.11.0/24).
  • Subnet yang sama tidak bisa dipasang di dua port (network tidak boleh tumpang tindih).
  • Port tanpa IP dan bukan anggota bridge tidak melakukan apa-apa. Perangkat yang dicolok ke sana tidak mendapat apa pun.
Perangkat Kondisi default port LAN
Router rumahan Sudah menjadi satu switch dari pabrik
Router MikroTik fisik Biasanya membawa defconf: port LAN sudah dimasukkan ke bridge
CHR Tidak ada defconf, setiap port berdiri sendiri

Bridge dengan comment defconf di router MikroTik adalah bridge bawaan pabrik. Bridge lain biasanya dibuat oleh admin untuk memisahkan segmen.

Apa itu bridge

Bridge adalah switch versi software di dalam router. Port yang dimasukkan ke satu bridge menjadi satu segmen Layer 2, seolah dicolok ke satu switch.

Konsep yang sama dipakai di tempat lain:

  • virbr0 (libvirt, Part 1)
  • vmbr0 (Proxmox)

Dua aturan penting

  1. IP, DHCP server, dan konfigurasi Layer 3 lainnya dipasang di bridge, bukan di port anggotanya. Port anggota hanya menjadi "colokan switch".
  2. Port anggota bridge mendapat flag S (slave). Flag RS = Running + Slave.

Bridge vs segmen terpisah

Analogi: bridge = satu ruangan besar, semua bisa langsung bicara. Segmen terpisah = banyak ruangan, komunikasi antar ruangan lewat resepsionis (router).

Segmen terpisah (routed) Bridge (switched)
Konfigurasi Subnet, pool, DHCP server, DHCP network per port Satu set untuk semua port
Pindah colokan IP ikut berubah IP tetap
Discovery berbasis broadcast/multicast (printer, network discovery, AirPlay, Wake-on-LAN) Tidak menyeberang subnet Berjalan
Kinerja antar port Di-route oleh CPU Di perangkat fisik bisa memakai hardware offload switch chip (di CHR semuanya software)
Isolasi Bisa diberi firewall antar segmen Tidak ada isolasi
Dampak masalah (loop, broadcast storm, rogue DHCP) Terbatas di satu segmen Mengenai semua perangkat di bridge

Kapan memakai yang mana

  • Port LAN biasa untuk karyawan → bridge.
  • Perlu memisahkan tamu, CCTV, atau server → segmen terpisah + firewall.

Di kantor biasanya kombinasi: beberapa bridge, masing-masing berisi beberapa port, dan antar bridge di-route. Memisahkan segmen per port fisik itu kaku, sehingga solusi modernnya adalah VLAN (Part 4).

Lab: menggabungkan ether2 + ether3

Topologi

                    [NAT]
                      │
                    ether1 (WAN)
                      │
               [MikroTikCHR-1]
                 │         │          │
          ┌── bridge-lan ──┐       ether4
          │ 192.168.10.1/24│     192.168.20.1/24
        ether2          ether3        │
          │               │        [Switch3]
      [Switch1]       [Switch2]        │
     PC1 PC2 PC3      PC4 PC5         PC6
  • ether2 + ether3 digabung di bridge-lan, sehingga PC1–PC5 berada di satu subnet.
  • ether4 berdiri sendiri dengan subnet 192.168.20.0/24 sebagai pembanding segmen yang di-route.

0. Backup dulu

Biasakan sebelum mengubah konfigurasi:

  • GNS3: Edit → Manage snapshots → Create
  • atau di terminal router:
/export file=fase1-selesai

1. Hapus konfigurasi LAN2 lama

  • IP → Addresses: hapus 192.168.11.1/24
  • IP → DHCP Server → DHCP: hapus server di ether3
  • IP → DHCP Server → Networks: hapus 192.168.11.0/24
  • IP → Pool: hapus pool-lan2

2–5. Buat bridge dan pindahkan konfigurasi

# Winbox Isian CLI
2 Bridge → Bridge → New Name bridge-lan /interface bridge add name=bridge-lan
3 Bridge → Ports → New (dua kali) ether2 dan ether3 ke bridge-lan /interface bridge port add bridge=bridge-lan interface=ether2
/interface bridge port add bridge=bridge-lan interface=ether3
4 IP → Addresses → edit 192.168.10.1/24 Interface: bridge-lan /ip address set [find address="192.168.10.1/24"] interface=bridge-lan
5 IP → DHCP Server → DHCP → edit server LAN Interface: bridge-lan /ip dhcp-server set [find interface=ether2] interface=bridge-lan

Rule NAT tidak perlu diubah, karena tetap mencocokkan out-interface=ether1.

6. Perbarui IP di semua PC

ip dhcp -x
ip dhcp
show ip

Pembanding: segmen ether4

Untuk Switch3 + PC6, ether4 dikonfigurasi seperti LAN di Part 2: IP 192.168.20.1/24, pool, DHCP network (gateway & DNS 192.168.20.1), dan DHCP server sendiri.

Verifikasi

  • PC1–PC5 mendapat IP 192.168.10.x dari pool yang sama dengan gateway 192.168.10.1.
  • Interfaces: ether2 dan ether3 berflag RS.
  • Bridge → Hosts: daftar MAC semua PC beserta port tempat mereka terhubung.
  • ping 8.8.8.8 dari PC berhasil.

Membaca trace

trace <IP tujuan>            # di VPCS
/tool traceroute 8.8.8.8     # di router

Setiap baris adalah satu hop, yaitu perangkat Layer 3 (router) yang dilewati. Trace mengirim paket dengan TTL kecil (mulai dari 1). Setiap router mengurangi TTL satu, dan router tempat TTL habis membalas, sehingga trace bisa menyusun daftar router di sepanjang jalur.

  • Switch dan bridge tidak mengurangi TTL, sehingga tidak pernah muncul di hasil trace.
  • Baris terakhir dengan Destination port unreachable itu normal. VPCS mengirim UDP ke port yang tidak dipakai, dan balasan "port tidak ada" menandakan paket sudah sampai di tujuan.

Latihan dan pembahasan

Soal 1: bandingkan trace dengan Fase 1

Soal: trace dari PC1/PC4 ke PC lain di bridge, bandingkan dengan Fase 1 (Part 2) dan dengan PC6.

Hasil

PC6 → PC1 (192.168.10.200):
 1   192.168.20.1     ← router, beda subnet → di-route
 2   192.168.10.200   ← tujuan

PC4 → PC1 (192.168.10.200):
 1   192.168.10.200   ← langsung sampai, satu bridge → di-switch

Pembahasan

  • Di Fase 1, PC1 dan PC4 berada di subnet berbeda, sehingga ada hop tambahan lewat router.
  • Sekarang PC4 dan PC1 berada di satu bridge = satu segmen Layer 2. PC4 meng-ARP PC1 secara langsung, dan CHR hanya meneruskan frame seperti switch.
  • Paket tetap melewati CHR secara fisik, tapi tidak muncul sebagai hop. Router yang sama bekerja sebagai switch untuk traffic di dalam bridge dan sebagai router untuk traffic antar subnet (seperti ke PC6).

Soal 2: detektif port

Soal: hanya lewat Bridge → Hosts, tentukan PC5 terhubung di port mana.

Pembahasan: cocokkan MAC dari show ip di PC5 dengan tabel Hosts → ether3. Di kantor, ini cara tercepat mencari "PC ini dicolok di port mana" tanpa menyusuri kabel.

Soal 3: disable port anggota bridge

Soal: disable ether3 di Bridge → Ports. Apakah PC4 masih bisa ping PC5? Ping PC1?

Hasil: PC4 → PC5 bisa, PC4 → PC1 tidak bisa.

Pembahasan

  • PC4 → PC5: keduanya terhubung ke Switch2. Switch2 meneruskan frame di antara mereka sendiri tanpa butuh router atau bridge.
  • PC4 → PC1: ether3 adalah satu-satunya penghubung Switch2 ke bridge. Setelah port itu mati, Switch2 menjadi "pulau" terpisah.
  • Kenapa router tidak menolong? PC4 menganggap PC1 tetangga (sama-sama 192.168.10.x), sehingga PC4 tidak pernah memakai gateway untuk menuju PC1. Ia hanya meng-ARP PC1, dan ARP itu tidak sampai ke mana pun. Di dalam satu subnet, kalau jalur Layer 2 putus, router tidak bisa menjadi jalur alternatif.
  • Gateway (192.168.10.1) dan internet juga tidak terjangkau dari PC4 dan PC5.

Pelajaran di kantor: gejala "satu ruangan tidak bisa apa-apa, tapi PC di ruangan itu masih bisa saling berbagi file" hampir pasti masalah uplink switch ruangan tersebut: kabel uplink, port di router/switch inti, atau port yang ter-disable.

Jangan lupa enable kembali ether3.

Masalah yang ditemui

Gateway DHCP berisi alamat network

Gejala: DHCP Networks berisi gateway 192.168.10.0 dan DNS kosong setelah menjalankan DHCP Setup.

Penyebab: isian gateway di wizard salah. .0 adalah alamat network, bukan alamat perangkat.

Solusi: IP → DHCP Server → Networks → gateway & DNS 192.168.10.1. Selalu periksa hasil wizard.

Static lease hilang setelah DHCP Setup

Gejala: lease PC1 kembali bertanda D (dynamic), nama server menjadi server1 dan pool menjadi pool1.

Penyebab: lease terikat ke DHCP server. Server lama diganti oleh wizard, sehingga static lease ikut hilang.

Solusi: buat ulang static lease. Pelajaran: wizard bisa menimpa konfigurasi lama tanpa peringatan, jadi backup sebelum menjalankannya.

IP WAN berubah

Gejala: IP ether1 berubah dari 192.168.122.212 menjadi 192.168.122.61.

Penyebab: CHR/lab di-restart dan mendapat lease baru dari dnsmasq virbr0. Flag D pada alamat WAN memang akan selalu ada karena dibuat oleh DHCP client.

Dampak: NAT tetap berjalan karena masquerade otomatis memakai IP yang sedang menempel. Winbox harus connect ulang ke IP baru. Ini contoh nyata kenapa masquerade cocok untuk WAN dinamis.

VPCS hanya menampilkan "DDD"

Gejala

PC1> ip dhcp
DDD
Can't find dhcp server

Arti: VPCS mencetak satu huruf per langkah DORA. D = Discover terkirim. "DDD" berarti tiga Discover terkirim tanpa Offer yang kembali.

Langkah diagnosis

  1. Periksa konfigurasi DHCP Networks (gateway & DNS).
  2. Log router: cari pesan dari dhcp.
  3. IP → DHCP Server → DHCP: pastikan server tidak berflag X (disabled) atau I (invalid).
  4. Tools → Torch di bridge-lan: kalau muncul traffic 0.0.0.0 → 255.255.255.255 (port 68 → 67), Discover sampai di router dan masalahnya di konfigurasi. Kalau kosong, masalahnya di jalur kabel/bridge.
  5. Bridge → Hosts: apakah MAC PC terlihat.
  6. Di VPCS: ip dhcp -d untuk melihat detail paket.

Penyebab di lab ini: GNS3 "nyangkut" (koneksi virtual antar node tidak terbentuk ulang dengan benar setelah topologi diubah). Selesai setelah GNS3 di-restart.

Urutan perbaikan kalau GNS3 berperilaku aneh (setelah konfigurasi dipastikan benar):

  1. Stop/start node yang bermasalah, termasuk switch.
  2. Hapus dan sambungkan ulang kabel.
  3. Restart GNS3.

Sisipan: bridge di dunia virtualisasi (Proxmox)

Server Proxmox di LAN bisa menghasilkan banyak IP dari VM-VM-nya. Cara VM terlihat di jaringan tergantung modelnya.

Model Cara kerja Kelebihan Kekurangan
Bridged (default, vmbr0) Bridge menyatukan NIC fisik dan NIC virtual VM. Setiap VM punya MAC sendiri dan terlihat seperti PC terpisah. VM dapat IP dari DHCP router, bisa diakses langsung dari LAN Setiap VM memakan IP subnet kantor
NAT Host menjadi router mini dan me-masquerade VM (sama seperti virbr0) Hemat IP, VM terisolasi VM tidak bisa diakses langsung, perlu port forwarding
Subnet/VLAN khusus VM di segmen sendiri, di-route oleh router Rapi, bisa diberi firewall Butuh VLAN (Part 4)

Manajemen IP

  • Rencanakan pembagian IP, contoh untuk /24:
Range Untuk
.1 Gateway
.2–.19 Perangkat jaringan (switch, AP)
.20–.79 Server & VM (statis)
.80–.99 Printer, CCTV
.100–.250 Pool DHCP
  • Server/VM memakai IP tetap: manual di dalam VM atau static lease. MAC VM Proxmox tersimpan permanen di konfigurasi VM, sehingga static lease bekerja baik.
  • Hati-hati saat clone: clone biasanya mendapat MAC baru, sehingga static lease tidak ikut. IP statis yang di-hardcode di template akan ikut ter-clone dan menyebabkan IP conflict.
  • Catat semuanya (IPAM): spreadsheet, atau tools seperti NetBox / phpIPAM.
  • Pantau ukuran subnet: /24 hanya 254 host. Kolom Available di menu Pool menunjukkan sisa IP.

Di host Proxmox, cek /etc/network/interfaces:

  • vmbr0 dengan bridge-ports eno1 → bridged.
  • bridge-vlan-aware yes → VM dipisah dengan VLAN.

Ringkasan

  • Port RouterOS defaultnya berdiri sendiri, dan bridge menggabungkannya menjadi satu segmen Layer 2.
  • Konfigurasi Layer 3 (IP, DHCP) dipasang di bridge, bukan di port anggota.
  • Di dalam bridge = switching (tidak ada hop). Antar subnet = routing (ada hop lewat gateway).
  • Dalam satu subnet, jalur Layer 2 yang putus tidak bisa ditolong router.
  • Wizard praktis, tapi periksa hasilnya dan backup sebelum menjalankannya.