Mikrotik 2: Kantor Mini
Fase 1 dari roadmap: membangun "kantor mini", yaitu satu router MikroTik sebagai gateway, beberapa PC yang mendapat IP otomatis, dan semuanya bisa internetan. Konfigurasi dilakukan lewat Winbox 4, dengan padanan CLI di setiap langkah.
Tujuan
- Paham peran IP address, gateway, DHCP, DNS, dan NAT di jaringan kantor.
- Paham beda switching (Layer 2) dan routing (Layer 3).
- Bisa membaca kondisi router: siapa yang tersambung, dapat IP apa, lewat mana.
Topologi
[NAT]
│
ether1 (WAN, DHCP client)
192.168.122.212/24
│
[MikroTikCHR-1]
ether2 / \ ether3
192.168.10.1/24 192.168.11.1/24
│ │
[Switch1] [Switch2]
/ | \ / \
PC1 PC2 PC3 PC4 PC5
- NAT node dari Part 1 tetap di
ether1. - Ethernet switch dan VPCS adalah perangkat bawaan GNS3 (kategori Switches dan End devices).
Pengingat: setelah reboot host, jalankan ulang aturan DOCKER-USER dari Part 1, kalau tidak traffic lab tidak bisa keluar ke internet.
Konsep dasar
IP address, subnet, dan alamat spesial
/24 berarti 24 bit pertama adalah bagian network, 8 bit terakhir bagian host.
192.168.10. | 00000000 → .0 semua bit host 0 = alamat network 192.168.10. | 00000001 → .1 host pertama 192.168.10. | 11111110 → .254 host terakhir 192.168.10. | 11111111 → .255 semua bit host 1 = broadcast
| Alamat | Fungsi | Bisa dipakai perangkat? |
|---|---|---|
192.168.10.0 |
Network address (identitas subnet) | Tidak |
192.168.10.1 – .254 |
Alamat host (254 host) | Ya |
192.168.10.255 |
Broadcast (ke semua di subnet) | Tidak |
Kapan menulis .1/24 dan kapan .0/24?
- IP → Addresses menjawab "IP gua apa?" → alamat host, misalnya
192.168.10.1/24. Kolom Network dihitung otomatis. - Route, DHCP Network, firewall menjawab "network yang mana?" → alamat network, misalnya
192.168.10.0/24.
Range IP privat (tidak dikenal di internet): 10.0.0.0/8, 172.16.0.0/12 (172.16–172.31), 192.168.0.0/16.
Gateway
Gateway adalah "pintu keluar" PC. Tujuan di luar subnet sendiri dikirim ke gateway.
Aturan emas: gateway harus berada di subnet yang sama dengan PC. Biasanya berupa IP router di interface tersebut. Gateway di .1 hanya kebiasaan, bukan aturan.
ARP
Di dalam satu segmen, frame Ethernet dikirim berdasarkan MAC address, bukan IP. ARP menerjemahkan IP → MAC di dalam satu segmen.
- Request (broadcast): "Siapa yang punya
192.168.10.1? Kasih tahu192.168.10.100." - Reply (unicast): "Itu gua, MAC gua
0C:B3:C6:FB:00:01." - Hasilnya disimpan di tabel ARP (cache) dan kedaluwarsa setelah beberapa waktu.
Poin penting: saat PC ping 8.8.8.8, yang di-ARP adalah gateway, bukan 8.8.8.8. Di setiap lompatan, IP tujuan tetap sama, tapi MAC tujuan berganti. Inilah beda Layer 2 (antar tetangga) dan Layer 3 (ujung ke ujung).
Switch juga punya tabel MAC, tapi isinya "MAC ini ada di port mana". Switch tidak peduli IP.
DHCP
PC yang baru tersambung belum punya IP, gateway, maupun DNS. DHCP membagikannya secara otomatis lewat proses DORA:
- Discover: PC broadcast "ada DHCP server?"
- Offer: server menawarkan IP + gateway + DNS
- Request: PC menerima tawaran
- Ack: server mengonfirmasi dan mencatat lease
Di RouterOS, DHCP dipecah menjadi tiga bagian:
| Bagian | Menjawab | Alasan dipisah |
|---|---|---|
| Pool | IP mana yang boleh dibagikan? | Pool dipakai ulang oleh fitur lain (VPN, PPPoE, Hotspot) |
| Network | Info apa yang diberikan (gateway, DNS)? | Satu server bisa melayani banyak subnet (lewat relay) |
| Server | Siapa yang melayani, di interface mana? | Mengikat semuanya ke satu segmen |
- Lease time (default 30 menit): lama IP "disewakan". PC memperpanjang sebelum habis, dan IP kembali ke pool kalau PC pergi.
- Kenapa pool mulai dari
.100:.2–.99disisakan untuk perangkat ber-IP tetap (server, printer, access point, CCTV).
Di mana DHCP server diletakkan? Broadcast DHCP tidak menyeberang router, jadi DHCP server harus berada di segmen yang sama dengan client, atau memakai DHCP relay yang meneruskan permintaan ke server di network lain.
| Skenario | Lokasi DHCP server |
|---|---|
| Rumah | Modem/router ISP |
| Kantor kecil-menengah | Router MikroTik, satu server per segmen/VLAN |
| Kantor besar | Server khusus (Windows Server, Kea, dnsmasq) + DHCP relay di router |
Di lab ini CHR berperan ganda: client di sisi WAN (dapat IP dari dnsmasq libvirt) dan server di sisi LAN.
Satu segmen = satu DHCP server. Dua server di segmen yang sama membuat PC bisa mendapat konfigurasi yang salah. Kasus klasiknya rogue DHCP: router Wi-Fi rumahan yang dicolok ke jaringan kantor.
DNS
PC diarahkan ke router (192.168.10.1) sebagai DNS server. Router meneruskan pertanyaan ke Dynamic Servers (192.168.122.1, didapat dari DHCP di WAN) dan menyimpan jawabannya di cache.
- Allow Remote Requests harus dicentang, karena defaultnya DNS router hanya untuk dirinya sendiri.
- Keuntungan lewat router: cache, kontrol terpusat (nama lokal, blokir domain), dan ganti DNS upstream cukup di satu tempat.
NAT (masquerade)
IP privat tidak bisa dibalas oleh internet. Masquerade mengganti IP sumber paket yang keluar lewat WAN menjadi IP router, lalu mencatat pemetaannya di connection tracking supaya balasan bisa dikembalikan ke PC yang benar.
- Chain
srcnat: yang diubah alamat sumber, diproses setelah keputusan routing. - Out. Interface
ether1: hanya traffic ke arah WAN yang di-NAT. masqueradevssrc-nat: masquerade otomatis memakai IP yang sedang menempel di interface, cocok untuk IP WAN dinamis.src-natdipakai kalau IP publik statis.
Kenapa NAT ada di menu Firewall? Firewall RouterOS adalah mesin pemroses paket dengan beberapa tabel (Filter, NAT, Mangle, Raw), persis seperti iptables di Linux:
# padanan rule masquerade di Linux
iptables -t nat -A POSTROUTING -o ether1 -j MASQUERADE
Fakta menarik: virbr0 + dnsmasq dari libvirt (Part 1) melakukan hal yang sama persis dengan router di lab ini: IP gateway, DHCP, DNS, dan masquerade. Lab ini juga double NAT: paket di-masquerade CHR, lalu di-NAT lagi oleh virbr0. Banyak kantor sungguhan juga begini (router kantor di belakang modem ISP).
Perjalanan satu ping
PC1 (192.168.10.100) ping 8.8.8.8 │ "bukan tetangga → kirim ke gateway" (ARP gateway → dapat MAC router) ▼ CHR ether2 ── routing: 0.0.0.0/0 via 192.168.122.1 ── keluar ether1 │ srcnat masquerade: src 192.168.10.100 → 192.168.122.212 ▼ virbr0 (host) ── masquerade lagi: src → IP host ▼ Internet ── balasan kembali, setiap NAT membalik alamatnya ── PC1 ✅
Konfigurasi LAN pertama
Konek Winbox
Isi Connect To dengan IP WAN CHR (contoh 192.168.122.212), login admin. Konek lewat MAC di tab Neighbors belum tentu berhasil melalui virbr0, jadi pakai IP.
Langkah-langkah
| # | Winbox | Isian | CLI |
|---|---|---|---|
| 1 | IP → Addresses → New | Address 192.168.10.1/24, Interface ether2, Comment LAN |
/ip address add address=192.168.10.1/24 interface=ether2 comment=LAN
|
| 2 | IP → Pool → New | Name pool-lan, Addresses 192.168.10.100-192.168.10.200 |
/ip pool add name=pool-lan ranges=192.168.10.100-192.168.10.200
|
| 3 | IP → DHCP Server → tab Networks → New | Address 192.168.10.0/24, Gateway 192.168.10.1, DNS 192.168.10.1 |
/ip dhcp-server network add address=192.168.10.0/24 gateway=192.168.10.1 dns-server=192.168.10.1
|
| 4 | IP → DHCP Server → tab DHCP → New | Name dhcp-lan, Interface ether2, Address Pool pool-lan |
/ip dhcp-server add name=dhcp-lan interface=ether2 address-pool=pool-lan disabled=no
|
| 5 | IP → DNS | Centang Allow Remote Requests | /ip dns set allow-remote-requests=yes
|
| 6 | IP → Firewall → tab NAT → New | General: Chain srcnat, Out. Interface ether1; Action: masquerade |
/ip firewall nat add chain=srcnat out-interface=ether1 action=masquerade comment="NAT ke internet"
|
Catatan langkah 1: entri 192.168.122.x di ether1 dengan flag D (Dynamic) adalah IP WAN dari DHCP client. Jangan dihapus. Router memang punya satu IP di setiap network yang ia sambungkan, dan network di interface berbeda tidak boleh tumpang tindih.
Peringatan keamanan: CHR ini belum punya firewall filter, dan allow-remote-requests=yes membuat DNS router bisa ditanya dari sisi WAN. Aman di lab, tapi di router sungguhan harus diblok (Fase 3).
Trik Winbox
- Tombol DHCP Setup mengerjakan langkah 2–4 sekaligus. Pakai setelah paham cara manualnya.
- Terminal tersedia di dalam Winbox. Jalankan
/ip firewall nat exportuntuk melihat padanan CLI dari apa yang diklik di GUI. - Safe Mode: kalau koneksi putus karena salah setting, perubahan otomatis dibatalkan. Biasakan menyalakannya.
Verifikasi
Di VPCS:
ip dhcp
show ip
ping 192.168.10.1
ping 8.8.8.8
ping google.com
trace 8.8.8.8
show arp
trace menampilkan hop lewat 192.168.10.1 lalu 192.168.122.1, jadi double NAT terlihat langsung.
Melihat perangkat yang tersambung
| Menu | Menampilkan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| IP → DHCP Server → Leases | IP, MAC, hostname, status (bound) |
Hanya perangkat yang memakai DHCP |
| IP → ARP | Perangkat yang baru-baru ini berkomunikasi, termasuk IP statis | Perangkat yang diam bisa tidak muncul |
| Bridge → Hosts | MAC per port fisik | Hanya untuk port anggota bridge |
| IP → Neighbors | Perangkat jaringan (MNDP/LLDP/CDP) | PC biasa umumnya tidak muncul |
| Tools → IP Scan | Scan aktif satu range | Harus dijalankan manual |
Kombinasi di kantor: Leases (perangkat siapa), ARP (siapa yang aktif), Bridge Hosts (colok di port mana).
Melihat paket ARP secara langsung: klik kanan kabel di GNS3 → Start capture, lalu di PC jalankan clear arp dan ping 192.168.10.1.
LAN kedua dan routing antar subnet
Konfigurasi
| Bagian | Isian |
|---|---|
| IP → Addresses | 192.168.11.1/24 di ether3 (beri comment, misalnya LAN2)
|
| IP → Pool | pool-lan2: 192.168.11.100-192.168.11.200
|
| DHCP → Networks | 192.168.11.0/24, gateway & DNS 192.168.11.1
|
| DHCP → DHCP | Server baru di ether3 dengan pool-lan2
|
| NAT | Tidak perlu diubah: rule mencocokkan out-interface=ether1, jadi semua subnet yang keluar ke WAN otomatis di-masquerade
|
Kenapa PC1 bisa ping PC4?
- PC1 melihat
192.168.11.xbukan tetangga → kirim ke gateway192.168.10.1. - Router sudah mengenal kedua network sebagai connected route (lihat IP → Routes):
DAC 192.168.10.0/24 → ether2 DAC 192.168.11.0/24 → ether3 DAd 0.0.0.0/0 → 192.168.122.1 (dari DHCP client)
D= dynamic,A= active,C= connected.
- Router meng-ARP PC4 di sisi
ether3lalu meneruskan paket. - Tidak kena NAT, karena traffic keluar lewat
ether3, bukanether1. PC4 melihat IP asli PC1. - Tidak ada yang memblokir, karena belum ada firewall filter.
Switching vs routing
| Tes | Hasil trace |
Yang bekerja |
|---|---|---|
| PC1 → PC2 (satu switch) | Langsung sampai | Switch (Layer 2). Router tidak terlibat. |
| PC1 → PC4 (beda subnet) | Satu hop lewat 192.168.10.1 |
Router (Layer 3) |
Implikasi di kantor: memisahkan subnet tidak sama dengan isolasi. Secara default router menyambungkan semua subnet. Untuk memisahkan misalnya Wi-Fi tamu atau CCTV dari jaringan karyawan, dibutuhkan firewall filter di chain forward (Fase 3).
Kesalahan umum
| Gejala | Penyebab | Solusi |
|---|---|---|
| PC dapat IP tapi tidak bisa internetan setelah ganti subnet | Gateway/DNS di DHCP Network masih memakai alamat subnet lama. PC tidak bisa meng-ARP gateway yang bukan tetangganya. | Gateway & DNS = IP router di subnet baru |
| Router punya dua IP di satu interface setelah ganti subnet | Menambah entri baru tanpa menghapus yang lama | Edit entri yang ada (double-click) |
| PC masih memakai IP lama | Lease lama belum diperbarui | Jalankan ip dhcp lagi di VPCS
|
| Satu segmen mendadak dapat gateway aneh | Rogue DHCP (dua DHCP server di satu segmen) | Cari dan cabut DHCP server liar |
| Router bingung meneruskan paket | Dua interface memakai subnet yang tumpang tindih | Pakai subnet berbeda di setiap interface |
failure: dhcp-client on that interface already exists |
Appliance CHR sudah membawa DHCP client di ether1 |
Normal, abaikan |
| Parameter ditolak | disable=no |
Yang benar disabled=no
|
| Static lease sudah diubah tapi IP perangkat tetap | DHCP menunggu client bertanya (renew) | ip dhcp -x lalu ip dhcp, atau restart perangkat
|
| Koneksi dua PC putus-nyambung acak | IP conflict (static lease ke IP yang sedang dipakai) | Taruh static lease di luar pool, cek Leases/ARP dulu |
| Router bisa internetan, semua PC tidak | Rule NAT hilang/disabled/out-interface salah |
Cek IP → Firewall → NAT |
Static lease
Static lease adalah reservasi IP di DHCP server berdasarkan MAC address. Setiap kali perangkat dengan MAC tersebut meminta IP, DHCP selalu memberikan IP yang sama.
Kenapa tidak set IP manual di perangkat saja?
- Terpusat: semua IP diatur dari router. Ganti IP printer cukup dari Winbox.
- Gateway & DNS tetap ikut DHCP: kalau gateway berubah, perangkat ikut berubah otomatis.
- Dipakai untuk printer, server, CCTV/NVR, access point, dan target port forwarding (Fase 3).
Contoh: mengunci IP PC4
- IP → DHCP Server → tab Leases.
- Cari baris PC4 (cocokkan MAC dengan hasil
show ipdi VPCS). Ada flag D (dynamic). - Pilih baris → Make Static. Flag D hilang.
- Untuk mengganti ke IP lain, double-click lease lalu ubah kolom Address.
/ip dhcp-server lease make-static [find address=192.168.11.10x]
Perubahan tidak langsung berlaku
Setelah static lease diubah, PC masih memakai IP lama. DHCP bersifat "client yang bertanya": router tidak bisa memaksa PC berganti IP. PC baru meminta lagi ketika:
- lease hampir habis (biasanya mulai memperpanjang di setengah lease time),
- kabel dicabut-colok atau perangkat restart,
- dipaksa manual.
ip dhcp -x # release lease lama
ip dhcp # minta lease baru
show ip
Tombol Send Reconfigure di Winbox hanya bekerja kalau client mendukung fitur tersebut. Kebanyakan perangkat (termasuk VPCS) tidak, jadi cara paling pasti tetap dari sisi client.
Di kantor: setelah mengganti IP printer lewat static lease, printer tidak langsung pindah. Tunggu renew, atau restart perangkatnya.
Latihan dan pembahasan
Soal 1: pindah subnet
Soal: ubah LAN pertama menjadi 10.10.10.0/24 (gateway .1, pool .50–.99).
Pembahasan: ada empat isian yang ikut berubah.
| Tempat | Sebelum | Sesudah |
|---|---|---|
| IP → Addresses | 192.168.10.1/24 |
10.10.10.1/24
|
| DHCP Network (address) | 192.168.10.0/24 |
10.10.10.0/24
|
| DHCP Network (gateway & DNS) | 192.168.10.1 |
10.10.10.1
|
| Pool | 192.168.10.100–200 |
10.10.10.50–99
|
- Rule NAT tidak perlu diubah, karena mencocokkan
out-interface=ether1, bukan alamat LAN. - Jebakan: lupa mengganti gateway di DHCP Network. PC mendapat
10.10.10.xdengan gateway192.168.10.1, yang bukan tetangganya. PC tidak bisa meng-ARP gateway tersebut, dan router juga sudah tidak memilikinya. Hasilnya: dapat IP tapi tidak bisa internetan. Ini kesalahan yang sering terjadi saat migrasi subnet di kantor.
Soal 2: static lease
Soal: buat PC1 selalu mendapat IP tetap, sementara PC lain tetap acak dari pool.
Pengerjaan: Make Static pada lease PC1, ubah Address ke IP target (contoh: 192.168.10.253), lalu di PC1 jalankan ip dhcp -x dan ip dhcp.
Pertanyaan 1: kenapa static lease sebaiknya di luar pool?
- Pool adalah wilayah DHCP dynamic. IP di luar pool tidak akan pernah dibagikan ke perangkat lain, jadi tidak mungkin bentrok.
- Mudah dibaca:
.2–.99= perangkat penting,.100+= perangkat biasa. - Aman saat pool diperbesar atau diperkecil.
- Konvensi umum: IP statis di range bawah (
.2–.99).
Pertanyaan 2: kenapa PC1 tidak langsung berganti IP? Lihat Perubahan tidak langsung berlaku.
Pertanyaan 3: static lease ke IP di dalam pool yang sedang dipakai PC lain? Kemungkinan urutannya:
- Static lease
.150dibuat untuk PC1, sementara PC2 masih memakai.150karena belum renew. - Kalau PC1 renew dan mendapat
.150, dua PC memakai IP yang sama: IP conflict. - Keduanya menjawab ARP untuk
.150. Tabel ARP router berganti-ganti MAC, sehingga koneksi kedua PC putus-nyambung acak. - Saat PC2 renew, server menolak (IP sudah direservasi untuk MAC lain), dan PC2 mendapat IP baru dari pool. PC2 tidak harus di-release manual;
ip dhcp -xhanya mempercepat.
Catatan: perilaku detail di langkah 2 bisa berbeda antar implementasi DHCP. Buktikan sendiri di lab sambil memantau Leases dan IP → ARP.
Pelajaran: sebelum memasang static lease, pastikan IP-nya kosong (cek Leases dan ARP), atau taruh di luar pool.
Soal 3: LAN kedua
Lihat LAN kedua dan routing antar subnet.
Soal 4: NAT dimatikan
Soal: disable rule NAT, lalu tes /ping 8.8.8.8 dari router dan dari PC1.
/ip firewall nat disable 0
/ping 8.8.8.8 count=4 # dari router
# ping 8.8.8.8 dari VPCS PC1
/ip firewall nat enable 0 # jangan lupa dinyalakan lagi
Hasil: ping dari router berhasil, ping dari PC1 timeout.
Pembahasan: paket dari keduanya keluar lewat kabel yang sama (ether1). Yang membedakan adalah IP sumber.
Router → 8.8.8.8 src 192.168.122.212 → dikenal virbr0 ✅ PC1 → 8.8.8.8 src 192.168.10.200 → "ini siapa? baliknya lewat mana?" ❌
- Router membuat paket sendiri dengan IP sumber interface keluarnya,
192.168.122.212. IP itu ada di subnetvirbr0, sehingga host tahu cara membalas, dan masquerade libvirt (untuk192.168.122.0/24) meneruskannya ke internet. Traffic yang dibuat router sendiri tidak membutuhkan rule masquerade di router. - PC1: tanpa NAT, IP sumber tetap
192.168.10.x. Host tidak punya route ke192.168.10.0/24, dan masquerade libvirt tidak mencakup subnet itu. Paket bisa keluar, tapi balasan tidak bisa pulang.
Pelajaran di kantor: gejala "router bisa internetan, tapi semua PC tidak" adalah tanda klasik masalah NAT (rule hilang, disabled, atau out-interface salah setelah port WAN diganti).
Alternatif tanpa NAT: kalau "dunia luar" diberi tahu jalan pulangnya, NAT tidak dibutuhkan. Misalnya route di host 192.168.10.0/24 via 192.168.122.212 membuat host bisa ping PC1 langsung. Ini routing murni, cara jaringan internal besar menyambungkan antar subnet. NAT hanya terpaksa dipakai di batas ke internet karena IP privat tidak bisa di-routing di sana.