Al-Milal wan-Nihal: Difference between revisions
ย |
|||
| (One intermediate revision by the same user not shown) | |||
| Line 94: | Line 94: | ||
Dari Abu 'Amir al-Hauzaniy 'Abdillah bin Luhai, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu'awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: โKetahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, โKetahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu al-Jama'ah. | Dari Abu 'Amir al-Hauzaniy 'Abdillah bin Luhai, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu'awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: โKetahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, โKetahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu al-Jama'ah. | ||
</span> | </span> | ||
== Hukum dan kaidah yang menjadi dasar penentuan jumlah sekte islam == | |||
Author mengatakan banyak penulis kitab/tokoh/cendekiawan menentukan jumlah sekte islamiyah tidak berdasarkan dalil teks dan fakta lapangan. Kalau seandainya ada dua penulis, maka mereka berdua pasti punya argumen masing-masing. Bahasa enaknya gak ada atau jarang yang nentuin jumlah sekte secara ilmiah. Lalu author menjelaskan bahwa kalau ada yang berbeda pendapat pada suatu masalah, bukan berati dia bikin sekte dan aliran baru. Kalau begitu berati jumlah aliran islamiyah akan banyak banget. Oleh karena itu perlu ada parameter yang menentukan apakah seseorang yang memiliki pendapat itu bikin sekte baru atau enggak. Karena banyak penulis yang gak merhatiin hal ini, mereka asal ikut-ikut aja. Maka Author menulis empat kaidah untuk menentukan aturan jumlah sekte islam | |||
#'''Kaidah pertama: Perbedaan dalam masalah ketuhanan''' <br> Mencakup masalah seperi sifat azali, sifat zat, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Asy-Ariyah, Al-Karramiyah, Al-Mujassimah, dan Al-Mu'tazilah | |||
#'''Kaidah kedua: Perbedaan dalam masalah takdir''' <br> Mencakup masalah seperti kehendak Allah untuk memberikan yang baik atau buruk, takdir, kekuasaan, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Nijariyyah, Jabariyyah, Asy-Ariyah, Al-Karramiyah | |||
#'''Kaidah ketiga: Perbedaan dalam masalah janji, ancaman, dan hukum''' <br> Mencakup masalah seperi keimanan, taaubat, ancaman, kafir-mengkafirkan, sesat-menyesatkan, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah murjiah, wa'idiyyah, mu'tazilah, Asy-Ariyah, Al-Karramiyah | |||
#'''Kaidah keempat: Perbedaan dalam masalah wahyu, kenabian, dan Imamah''' <br> Mencakup masalah seperti akal vs wahyu, kemaksuman Nabi, Syarat imam, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Syi'ah, Khawarij, Mu'tazilah, Karramiyah, dan Asyariyah | |||
Lalu author mengatakan kalau ada seorang imam yang menyatakan pendapat sendiri terkait kaidah dasar, maka akan dianggap sebuah sekte baru. Tapi kalau cuma menyendiri dalam satu masalah kecil, maka tidak dianggap pendapatnya sebagai mazhab, dan pengikutnya pun bukan dianggap firqah tersendiri. Kelompok tersebut akan dimasukan ke dalam kelompok yang sesuai dengan mayoritas pendapatnya, dan sisanya (yang nyeleneh) dianggap sebagai furuโ (cabang) yang gak berdiri sendiri. Ini semua dilakukan supaya perbedaan pendapat gak melebar ke tak berujung, seolah tiap orang bisa bikin mazhab baru sendiri. Nah, kalau udah jelas mana masalah yang jadi akar perbedaan, maka akan kelihatan klasifikasi kelompok-kelompok Islam, yang bisa disederhanakan jadi empat kelompok besar utama, meski dalam praktiknya beberapa ada yang bercampur satu sama lain. | |||
Lalu top empat kelompok itu adalah: | |||
*Qadariyyah | |||
*Shifฤtiyyah | |||
*Khawฤrij | |||
*Syฤซโah | |||
Latest revision as of 12:04, 12 June 2025
Udah empat tahun lebih setelah saya lulus pesantren; banting setir ke dunia IT yang isinya coding, terminal, server, AI, DevOps, dan segala macem. Entah ada panggilan jiwa lagi untuk baca kitab kuning. Waktu di pesantren saya suka bgt belajar aqidah. Saya pun sangat antusias kalo baca tentang teologi, perbandingan agama, dll. Pernah daftar ke Universitas Islam Madinah tapi qadarullah belom rezeki. Jadi di tengah kesibukan kerja saya usahakan baca walaupun setengah halaman perhari. Jujur agak sulit, entah skill baca saya yang udah mulai tumpul atau emang kitab nya yang berat. Kali ini saya baca al-Milal wan-Nihal karya Imam Muhammad bin Abdul Karim bin Ahmad asy-Syahrastani atau dikenal sebagai asy-Syahrastani
Tentang Author
โจ Nama Lengkap & Asal Usul
Nama lengkapnya: Imam Muhammad bin Abdul Karim bin Ahmad asy-Syahrastani
Lahir di Syahrastan, Khurasan (Persia)
Tanggal lahirnya diperdebatkan: 469 H (versi at-Tahbรฎr) atau 479 H (versi adz-Dzail)
๐ Keilmuan & Guru-gurunya
Ulama multidisipliner: ahli dalam Ilmu Kalam, Tafsir, Hadis, Fikih, dan Ushul Fikih
- Tafsir: dari Imam Abu al-Qosim al-Anshari
- Hadis: dari Imam Abu al-Hasan al-Madini
- Kalam, Fikih, dan Ushul Fikih: dari Imam Abu Nashr al-Qusyairi
๐ Karier dan Popularitas
- Di usia 15 tahun, udah jadi dai kondang di Baghdad
- Dikenal sebagai ulama beradab dan disukai masyarakat
Karya-karya
Banyak karya, yang paling fenomenal: al-Milal wan-Nihal
Buku ini bahas aliran-aliran sesat, terutama Syiah, dengan pendekatan objektif
๐ฅ Tuduhan Kontroversial
Dituding Syiah Ismailiyah oleh beberapa ulama seperti as-Sam'ani, al-Baihaqi, dan bahkan dikutip juga oleh adz-Dzahabi Tuduhan ini termasuk:
- Menulis tafsir esoterik Syiah secara diam-diam
- Mendukung pandangan-pandangan Syiah
๐ก๏ธ Bantahan & Klarifikasi
Imam as-Subki dan banyak ulama lain membantah tuduhan tersebut
- Gak ada bukti kuat beliau Syiah. Dalam kitabnya, justru sering ngutip Asy'ariyah
- Kitabnya Nihรขyatul-Iqdรขm juga sesuai akidah Ahlus Sunnah
๐ชฆ Wafat
Wafat tahun 548 H (1153 M), Dimakamkan di kampung halamannya, Syahrastan
Referensi: https://annajahsidogiri.id/imam-asy-syahrastani-ulama-sekokoh-baja/
Tentang al-Milal wa al-Nihal
Kitฤb al-Milal wa al-Nihal (Arab: ูุชุงุจ ุงูู ูู ูุงููุญู) itu artinya "Kitab tentang Sektarianisme dan Aliran Kepercayaan". Ini buku legendaris yang ditulis Imam Muhammad al-Shahrastani, seorang ulama brilian dari abad ke-12. Buku ini ngebahas berbagai agama, sekte, dan aliran filsafatโnggak cuma dalam Islam aja, tapi juga Yahudi, Kristen, Zoroaster, Hindu, bahkan filsafat Yunani dan aliran pemikiran non-Islam lainnya. Yang keren, pendekatannya non-polemik, artinya dia nggak nyerang atau ngejek. Dia berusaha nulis secara objektif dan sistematis.
Faidah Kitab
di halaman 13, sang author (al-Shahrastani) ingin menjelaskan lima pendahuluan yang penting sebelum menyelam lebih dalam di antaranya:
- Penjelasan tentang pembagian umat manusia secara umum.
- Menentukan aturan yang dipakai buat ngitung dan ngebagi kelompok-kelompok dalam Islam.
- Menjelaskan fitnah pertama dalam hal khilafah (kepemimpinan setelah Nabi), sumbernya siapa dan gimana bentuknya.
- Menjelaskan fitnah akidah pertama dalam Islam, gimana caranya menyebar, siapa penyebabnya, dan gimana manifestasinya.
- Menjelaskan kenapa kitab ini di susun dalam urutan (saya belom ngerti)
note: fitnah artinya bukan nuduh orang kayak "si A difitnah maling sama B". Maksud dari fitnah adalah Cobaan dalam beragama
Penjelasan tentang pembagian umat manusia secara umum
- Bangsa manusia ada yang dibagi berdasarkan iklim atau faktor geografi yang mempengaruhi watak, tabiat, budaya, warna kulit, dan bahasa
- Bangsa manusia dibagi dari 4 penjuru arah: timur, barat, selatan, dan utara. Masing-masing punya hukum budaya tersendiri
- Bangsa manusia dibagi berdasarkan suku: Arab, non Arab, Romawi, dn india. Kemudian mereka saling bercampur atau bertukar budaya. Arab dan India punya kecenderungan filosofis yang miripโlebih fokus ke pemikiran abstrak dan spiritual. Sementara Romawi dan non-Arab lebih cenderung ke hal-hal yang lebih nyata dan fisik.
- Bangsa manusia dibagi berdasarkan agama dan madzhab. Dibagi menjadi dua yaitu:
- ุฃูู ุงูุฏูุงูุงุช: Ahl al-Diyanat (orang-orang agama), contohnya Zoroaster (Majusi), Yahudi, Kristen, dan Islam.
- ุฃูู ุงูุฃููุงุก: Ahl al-Ahwa' wa al-Nahl (orang-orang yang punya hawa nafsu dan paham-paham sendiri serta liar), contohnya filsuf, aliran-aliran sesat, penyembah benda-benda langit, patung, dll.
Setiap kelompok (baik yang punya agama resmi atau yang punya pandangan sendiri-sendiri) itu berpisah jadi banyak cabang dan aliran. Yahudi ada 71 cabang, Nasrani ada 72 cabang, Muslim ada 73 cabang. dan yang akan selamat di akhirat nanti hanya SATU. Nah ada kaidah filsafat dari al-Shahrastani:
*Kebenaran itu tidak mungkin ada dua yang saling bertentangan tapi keduanya benar. *Suatu hal yang mustahil jika ada dua hal yang bertentangan dalam urusan logika kalau dua-dua nya benar *Kalau kebenaran dalam setiap masalah yang bersifat akal itu cuma satu, maka kebenaran dalam semua masalah juga harus ada pada satu kelompok saja.
Ok sejauh yang saya baca, yang saya kagumi adalah sang Author tidak hanya asal tulis kaidah; tetapi juga diikuti oleh dalil Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kalau kita ikuti kaidah di atas, ini sangat selaras dengan surat Al-A'raf ayat 181 yang menyebut ุงูู ููุฉู (umat) dengan isim mufrod yang artinya menunjukan SATU, bukan dalam bentuk jamak (ุฃูู ูู )
ููู ูู ูููู ุฎูููููููุข ุงูู ููุฉู ูููููุฏููููู ุจูุงููุญูููู ููุจููู ููุนูุฏููููููู
Di antara orang-orang yang telah Kami ciptakan ada (satu) umat yang memberi petunjuk dengan (dasar) kebenaran dan dengan itu (pula) mereka berlaku adil.
QS Al-A'raf: 181
Lalu ada lagi Hadist Nabi:
ุนููู ุฃูุจููู ุนูุงู ูุฑู ุงููููููุฒูููููู ุนูุจูุฏู ุงูููู ุจููู ููุญูููู ุนููู ู ูุนูุงููููุฉู ุจููู ุฃูุจููู ุณูููููุงูู ุฃูููููู ููุงู ู ููููููุง ููููุงูู: ุฃููุงู ุฅูููู ุฑูุณููููู ุงูููู ุตููููู ุงููููู ุนููููููู ููุณููููู ู ููุงู ู ููููููุง ููููุงูู: ุฃูููุงู ุฅูููู ู ููู ููุจูููููู ู ู ููู ุฃููููู ุงููููุชูุงุจู ุงูููุชูุฑูููููุง ุนูููู ุซูููุชููููู ููุณูุจูุนููููู ู ููููุฉู ููุฅูููู ููุฐููู ุงููู ููููุฉู ุณูุชูููุชูุฑููู ุนูููู ุซููุงูุซู ููุณูุจูุนููููู. ุซูููุชูุงูู ููุณูุจูุนููููู ููู ุงููููุงุฑู ููููุงุญูุฏูุฉู ููู ุงููุฌููููุฉู ูููููู ุงููุฌูู ูุงุนูุฉู .
Dari Abu 'Amir al-Hauzaniy 'Abdillah bin Luhai, dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan, bahwasanya ia (Mu'awiyah) pernah berdiri di hadapan kami, lalu ia berkata: โKetahuilah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berdiri di hadapan kami, kemudian beliau bersabda, โKetahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan sesungguhnya ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, (adapun) yang tujuh puluh dua akan masuk Neraka dan yang satu golongan akan masuk Surga, yaitu al-Jama'ah.
Hukum dan kaidah yang menjadi dasar penentuan jumlah sekte islam
Author mengatakan banyak penulis kitab/tokoh/cendekiawan menentukan jumlah sekte islamiyah tidak berdasarkan dalil teks dan fakta lapangan. Kalau seandainya ada dua penulis, maka mereka berdua pasti punya argumen masing-masing. Bahasa enaknya gak ada atau jarang yang nentuin jumlah sekte secara ilmiah. Lalu author menjelaskan bahwa kalau ada yang berbeda pendapat pada suatu masalah, bukan berati dia bikin sekte dan aliran baru. Kalau begitu berati jumlah aliran islamiyah akan banyak banget. Oleh karena itu perlu ada parameter yang menentukan apakah seseorang yang memiliki pendapat itu bikin sekte baru atau enggak. Karena banyak penulis yang gak merhatiin hal ini, mereka asal ikut-ikut aja. Maka Author menulis empat kaidah untuk menentukan aturan jumlah sekte islam
- Kaidah pertama: Perbedaan dalam masalah ketuhanan
Mencakup masalah seperi sifat azali, sifat zat, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Asy-Ariyah, Al-Karramiyah, Al-Mujassimah, dan Al-Mu'tazilah - Kaidah kedua: Perbedaan dalam masalah takdir
Mencakup masalah seperti kehendak Allah untuk memberikan yang baik atau buruk, takdir, kekuasaan, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Nijariyyah, Jabariyyah, Asy-Ariyah, Al-Karramiyah - Kaidah ketiga: Perbedaan dalam masalah janji, ancaman, dan hukum
Mencakup masalah seperi keimanan, taaubat, ancaman, kafir-mengkafirkan, sesat-menyesatkan, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah murjiah, wa'idiyyah, mu'tazilah, Asy-Ariyah, Al-Karramiyah - Kaidah keempat: Perbedaan dalam masalah wahyu, kenabian, dan Imamah
Mencakup masalah seperti akal vs wahyu, kemaksuman Nabi, Syarat imam, dll. Kelompok yang berbeda-beda dalam masalah ini adalah Syi'ah, Khawarij, Mu'tazilah, Karramiyah, dan Asyariyah
Lalu author mengatakan kalau ada seorang imam yang menyatakan pendapat sendiri terkait kaidah dasar, maka akan dianggap sebuah sekte baru. Tapi kalau cuma menyendiri dalam satu masalah kecil, maka tidak dianggap pendapatnya sebagai mazhab, dan pengikutnya pun bukan dianggap firqah tersendiri. Kelompok tersebut akan dimasukan ke dalam kelompok yang sesuai dengan mayoritas pendapatnya, dan sisanya (yang nyeleneh) dianggap sebagai furuโ (cabang) yang gak berdiri sendiri. Ini semua dilakukan supaya perbedaan pendapat gak melebar ke tak berujung, seolah tiap orang bisa bikin mazhab baru sendiri. Nah, kalau udah jelas mana masalah yang jadi akar perbedaan, maka akan kelihatan klasifikasi kelompok-kelompok Islam, yang bisa disederhanakan jadi empat kelompok besar utama, meski dalam praktiknya beberapa ada yang bercampur satu sama lain.
Lalu top empat kelompok itu adalah:
- Qadariyyah
- Shifฤtiyyah
- Khawฤrij
- Syฤซโah